Rabu, 04 Juli 2012

11. Potong Rambut



Gue      : Pada kesempatan ini. Gue akan berbagi cerita tentang masalah potong rambut. Karena gue juga punya rambut.
            Berbeda dengan biasanya, saat gue bercermin di kaca, gue gak lagi heran menatap bayangan gue sendiri. Karena apa, karena dari dulu muka gue tetap begini. Memang gak mirip Ariel sih, tapi tetap...

Bang Echong     : tapi tetap mirip Arman, kan Jo...

Gue      : Bukan, Bang.
            Memang gak mirip Ariel sih, tapi tetap... muka gue juga gak mirip Arman.
            Tapi yang gue kagetkan adalah rambut gue. Rambut gue udah lebat tapi gak seperti habis keramas. So, muka gue ditambah dengan kesispekan badan gue mencerminkan sesosok Singa Busung Lapar dengan Gaya Rambut Afro versi 2012.

Si Iyul  : Kayak Tutur Tinular aja, bos. Pake versi-versi segala.

Gue      : Gak usah membahas komentar Iyul lebih lanjut.
            Gue menyimpulkan bahwa, sekaranglah gue harus potong rambut. Biar penampilan gue kayak Morgan lagi.
            Bukan karena gue gak punya uang buat potong rambut ke Jakarta. Gue kan orang Jogja. Akan tetapi, alasan mendasar gue gak mau potong rambut di Jakarta karena... Masih ingat kan iklan Es Dung-Dung versi dewasa. Corneto kalo gak salah.
            Mau masuk diskotik dengan uang 5000 aja, cuma disinarin lampu senter. Sedangkan kalo pas mau potong "5000 pak.". Cuma dipangkas poninya aja. Cuma separoh lagi. Itulah alasan gue.

Si Iyul  : Kan itu sama yang di atas, bos. Sama-sama gak punya uang.

Gue      : Iya, ya Yul.
            Gue pun mencari tukang potong terdekat. Sampai di sana gue kaget setengah mateng, karena gue lihat antriannya banyak sekali. Bahkan mobil anti peluruku gak bisa diparkirin, mungkin karena aku yang gak punya mobil. Aku pun menunggu. Gue kaget tiga perempat mateng ketika gue melihat kartu yang diberikan oleh kasir tempat potong itu. "31".
            Gue makin bingung semateng-matengnya dengan tempat potong ini. Sebenarnya ini tempat potong atau RSUD ya? antreannya banyak sekali, setelah gue ukur ,panjangnya 1,5 kilometer kalo ditambah keliling pasar 4 kali putaran. Bahkan ada calo tiket.
            Lihat ke kanan, ada sesosok genderuwo gundul baca koran. Setelah gue tanya "Kok gundul mau dipotong?". Dia menjawab "Lihat nih..." sambil memperlihatkan rambut dadanya yang lebih mirip akar beringin dari pada rambut.
            Lihat ke kiri ada sesosok tuyul yang berambut punk. Setelah bertanya jawab dengannya sekian lama. Gue pun dapat menyampaikan, bahwa dia adalah kapten geng motor yang udah tobat menjadi kapten geng becak motor. Sepertinya dia adalah temannya Si Iyul, mukanya sama. Sama-sama nyepetin.

Si Iyul  : Si Piyul, ya bos? anak geng motor, kan?

Gue      : Gue gak tahu, Yul. Masalahnya gue lupa nanya namanya, karena gue udah dipanggil sama abang tukan potong. Kalo anak motor sih gue gak percaya, katanya dia sih, dia anaknya Kang Puyul.

Si Iyul  : Berarti benar bos, dia Piyul temanku seperjuangan dulu. Dulu kami sering mencopet bersama lho, bos.

Bang Echong     : Sebentar, sebenernya kalian ini ngomonin siapa sih? Kok gak jadi cerita masalah rambut? Udah aja, Jo... Iyul udah strees berat.

Quotes dari Gue : Segondrong apa rambut lo, masih kalah dengan yang lebih gondrong. Waspadalah... Waspadalah....

Km 0, 20:31 Selasa 3 Juli 2012
Dr. Joy, lagi membalap liar bersama bekicot

Tidak ada komentar: